SHARE
Ilustrasi Kemiskinan dan Pendidikan

Pilih Karini, seorang guru di SMA 1 Pangkal Pinang merasa gundah dengan kondisi pendidikan anak-anak sekolah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kegundahannya itu sangat beralasan sebab sebagai seorang guru, ia punya tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan murid-muridnya termasuk kesejahteraan ekonomi keluarga mereka kelak.

Berangkat dari naluri kegundahan sebagai pendidik tersebut, lulusan Pendidikan Kimia Universitas Sriwijaya itu membuat sebuah karya ilmiah untuk membuktikan hipotesis apakah ada keterkaitan antara tingkat pendidikan dengan kesejahteraan ekonomi? Ia memberi judul karya ilmiahnya ‘Pengaruh Tingkat Kemiskinan Terhadap Angka Partisipasi Sekolah Usia 16-18 Tahun di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung’.

Rupanya ada beberapa hal yang mengejutkan dari temuannya itu. Salah satunya adalah pendidikan dapat membuka jalan ekonomi keluarga ke tingkat yang lebih tinggi, dari yang semula berasal dari keluarga miskin naik kelas menjadi keluarga sejahtera.

Dikutip dari website resmi Badan Pusat Statistik RI (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia per semester II 2017 menyentuh angka 26.582.990 jiwa. Sedangkan untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), jumlah penduduk miskin per semester II 2017 menyentuh angka 76.200 jiwa. Persentase penduduk miskin di Babel 6% (Survey BPS 2010 jumlah penduduk Babel 1.223.296 jiwa) lebih rendah daripada persentase penduduk miskin secara nasional 11% (Survey BPS 2010 jumlah penduduk Indonesia 237.641.326 jiwa).

Keterkaitan Pendidikan dan Kemiskinan

Lantas, bagaimana cara membuktikan pendidikan sangat berpengaruh dalam pengurangan kemiskinan? Pilih Karini menggunakan metode kuantitatif untuk mengukur kebenaran hipotesis di atas yaitu dengan mengambil kesimpulan dari analisis data yang bersumber dari BPS Babel. Dari kesimpulan penelitian ini ternyata dapat dibuktikan bahwa semakin tinggi angka pasrtisipasi sekolah di sebuah daerah maka kemiskinan daerah tersebut semakin berkurang.

Dari ketujuh wilayah Babel (Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, Bangka Barat, Belitung, dan Belitung Timur, dan Kota Pangkalpinang), semua daerah rata-rata mengalami tren kenaikan angka partisipasi sekolah (APS) kecuali Bangka yang menurun dari 75% di tahun 2015 menjadi 63% di tahun 2016. Selain Bangka, Bangka Barat juga mengalami nasib yang sama, menurun dari 78% di tahun 2015 menjadi 70% di tahun 2016 (Data BPS Babel 14 Juni 2017). Namun demikian, jika dilihat dari APS Belitung dan Bangka Tengah yang grafiknya sempat menurun di tahun 2015 yang akhirnya meningkat di tahun 2016 ini membuktikan bahwa peningkatan APS hampir selalu terjadi di daerah Babel tiap tahunnya.

Ayo Kembali ke Sekolah

Sedangkan rata-rata tingkat kemiskinan di Babel mengalami tren penurunan. Empat daerah yaitu Belitung, Belitung Timur, Bangka Tengah, dan Bangka mempunyai persentase tingkat kemiskinan di atas rata-rata provinsi. Adapun daerah lainnya seperti Bangka Selatan, Bangka Barat, dan Pangkalpinang mempunyai persentase tingkat kemiskinan di bawah rata-rata provinsi.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa APS dan tingkat kemiskinan di Babel saling berkaitan. Daerah yang APS-nya meningkat, besar kemungkinan tingkat kemiskinannya juga menurun. Kedua variabel ini jika digambarkan dalam sebuah grafik, akan tercipta sebuah garis lurus dengan koefisien determinasi pearson sebesar 0.99.

Determinasi pearson adalah salah satu ukuran korelasi yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan linier dari dua variabel. Dari data di atas, koefisien determinasi pearson sebesar 0.99 menunjukkan bahwa data antara APS dan tingkat kemiskinan di Babel saling berkaitan dengan tingkat akurasi 99%.

Dalam rentang waktu yang sama, jenjang sekolah menengah atas (SMA) usia 16-18 tahun di Babel juga mengalami peningkatan jumlah murid. Orang tua murid semakin sadar akan pentingnya pendidikan sehingga anak-anaknya disekolahkan hingga ke jenjang SMA. Adapun kondisi APS yang sempat terjadi penurunan dalam rentang 2015-2016 terjadi karena pertumbuhan ekonomi Babel merosot sehingga kemampuan ekonomi masyarakat rendah.

Solusi Meningkatkan APS dan Pendidikan di Babel

Permasalahan klasik dunia pendidikan di seluruh daerah Indonesia rata-rata hampir sama sebab psikologi masyarakat dan topografi daerahnya tidak jauh berbeda. Jika diuraikan secara rinci, ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah terutama Pemerintah Babel untuk mendorong kenaikan APS di provinsi kepulauan itu.

Pertama, pembenahan infrastruktur. Di provinsi manapun, ketimpangan pendidikan pasti selalu ada. Anggapan umum selama ini sekolah yang dekat dengan pusat pemerintahan mempunyai sarana dan prasarana yang lebih lengkap dan modern. Sedangkan sekolah yang jauh dan terpencil mempunyai fasilitas yang kurang lengkap. Misalnya anak-anak yang tinggal di daerah pegunungan harus bersusah payah untuk bisa sampai sekolah karena infrastruktur jalan yang kurang memadai.

Kondisi seperti ini yang harus diperhatikan pemerintah dengan pembenahan infrastruktur, bangunan sekolah, dan fasilitasnya sehingga pendidikan di daerah ini tidak tertinggal dengan daerah lain yang ada di dekat perkotaan. Selain itu, sumbangan dana dari pemerintah belum tersalurkan secara menyeluruh dan hanya terpusat di sekolah yang dianggap unggul. Pemerintah harus menciptakan sistem yang benar-benar adil agar semua anak bangsa di daerah dapat merasakan nikmatnya pembangunan.

Kedua, peningkatan kualitas guru. Sebagai ujung tombak pendidikan, posisi guru di sekolah sangat vital. Oleh karena itu tugas dan tanggung jawabnya jug berat sebab harus mempersiapkan anak didiknya agar bisa bersaing dengan globalisasi.

Diperlukan standardisasi kualitas guru di semua daerah agar tidak ada kecemburuan pendidikan. Guru di daerah terpencil jumlahnya sangat sedikit dan sebagian besar menumpuk di kota-kota. Pemerintah perlu mengatur regulasi penempatan guru ini misalnya dengan pemberian tunjangan yang lebih tinggi jika guru mau mengajar di darah terpencil.

Kesejahteraan guru juga harus ditingkatkan agar guru fokus dalam dunia mengajar. Jangan lagi ada guru yang melakukan pekerjaan sambilan lain di luar sekolah karena kekurangan biaya hidup. Dengan demikian, kinerja guru semakin meningkat selaras dengan kualitas anak muridnya.

Potret Anak-Anak di Kawasan Kumuh (foto: beritasatu)

Ketiga, pentingnya pendidikan karakter. Sebelum menanamkan karakter kepada anak didik, terlebih dahulu guru dan kepala sekolah harus mempraktikannya dalam kegiatan sehari-hari di ruang kelas dan lingkungan sekolah. Seperti pepatah arab, vagaimana mungkin orang yang tidak mempunyai sesuatu dapat memberi orang lain? Oleh karena itu, guru dan kepala sekolah harus punya ilmunya sebelum menekankan pendidikan karakter kepada murid-murid.

Pendidikan karakter perlu diterapkan di sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban dunia pendidikan kepada orang tua murid. Sekolah adalah tempat menimba ilmu sekaligus menempa mental anak didik untuk menggantikan peran orang tua.

Keempat, inovasi. Orang tua murid masih banyak yang berpikiran jika sekolah adalah tempat belajar ilmu secara formal. Padahal selain formalitas, sekolah tempat untuk berpikiran kritis dan kreatif.

Inilah salah satu tantangan dinas pendidikan untuk mendorong pihak sekolah lebih berinovasi secara positif. Bagaimana mewujudkan pembelajaran yang menarik dan efektif sehingga siswa merasa senang beda di lingkungan sekolah.

Salah satu caranya adalah ekstrakurikuler. Kegiatan ini lebih menekankan minat dan bakat atau mengajari siswa berwirausaha agar siswa terbiasa mandiri dan punya rasa tanggung jawab terhadap pedidikannya sendiri.

Kelima, pengawasan terstruktur. Agar jabaran visi dan misi sekolah tidak bias, diperlukan pengawasan dari pihak ketiga untuk memantau jalannya proses pendidikan. Langkah ini merupakan antisipasi terhadap tindakan-tindakan yang mungkin terjadi dunia pendidikan sepert kenakalan remaja, kurangnya kompetensi guru, dan manajemen sekolah yang amburadul.

Pengawas dapat memberikan masukan sekaligus mengoreksi kebijakan sekolah yang selama ini dapat merugikan siswa sehingga membuat APS menurun. Pengawas juga bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat khususnya orang tua murid tentang pentingnya sekolah hingga ke jenjang paling tinggi sebagai upaya meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik.

Rosyid Bagus Ginanjar Habibi l Jurnalis Majalah Warta Fiskal

LEAVE A REPLY