SHARE
Mbah dan Kecintaan pada Negerinya (foto: kompas)

Minggu ini adalah minggu yang (mungkin) menjadi minggu menyedihkan bagi kita semua. Seorang ulama besar, Pecinta NKRI yang ikhlas, Pecinta Nabi Muhammad SAW beserta dzurriyahnya yang tulus, dan penghormat manusia yang luar biasa itu telah pergi menghadap Allah SWT.

Kisah Bapak Tua dan Seorang Anaknya yang Minta Do’a

Bagi Mbah Moen, apapun maqom dari manusia yang pernah sowan kepada beliau adalah makhluk Allah yang pantas untuk dicintai dan dihargai. Rekan-rekan rombongan Yayasan AL IMAN yang bersilaturahmi dengan beliau dua tahun lalu, mungkin masih ingat dengan kejadian ini. Di tengah-tengah acara sowan kita itu, tiba-tiba ada seorang bapak tua beserta anaknya yang ‘menyerobot’ kunjungan.

Bapak tua tersebut minta ijin kepada rombongan AL IMAN dan menyela jadwal kita agar didoakan Mbah Moen. Kalau tidak salah, bapak tua tersebut akan berangkat haji. Mbah Moen dengan wajah teduhnya mempersilahkan bapak tua itu mendekat kemudian beliau mendoakannya secara singkat.

Dari peristiwa tersebut saya trenyuh, betapa tinggi akhlak beliau. Bagi kita yang sebenarnya berada pada level yang masih rendah, akan merasa terganggu dengan kejadian mendadak itu. Atau bisa jadi kita marah sebab acara kunjungan yang telah dijadwalkan asisten Mbah Moen sebelumnya, diserobot oleh tamu lain. Bisa jadi kita selama ini merasa, dalam pandangan kita tamu itu lebih rendah maqomnya. Kita mungkin menganggapnya kurang sopan.

Mbah Moen dengan segala maqom keilmuan dan kedudukan beliau tetap mempersilakan dan mengangkat derajat tamu tersebut. Tentunya tanpa membuat kunjungan AL IMAN yang menjadi tamu resminya Mbah Moen merasa terganggu.

Nasihat Mbah Moen Tentang Cinta Negeri

Ada satu nasihat Mbah Moen yang kala itu masih melekat di hati saya. Dalam pertemuan itu beliau menekankan pentingnya cinta pada negeri ini. Bagi beliau, PBNU adalah akronim dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Empat pilar yang menjadi pondasi utama negeri ini.

Sedangkan di antara masyarakat Indonesia sekarang ini, banyak yang berusaha mencoba untuk mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Padahal kita semua tahu, Pancasila adalah ideologi paling cocok untuk perdamaian di negeri ini.

Ada juga kelompok yang berusaha mencabik-cabik negeri ini dengan isu SARA dan berbagai cara menghancurkan lainnya. Namun kita pun sama-sama tahu bahwa negeri ini adalah negeri yang istimewa. Isu apapun untuk memecah belah bangsa ini akan terpental dengan sendirinya.

Sejarah Bangsa Indonesia adalah Persatuan

Bangsa lain seperti Eropa atau Arab, satu bangsa dipangku oleh banyak negara. Di negeri ini, berbagai suku dan bangsa bersatu dalam naungan satu negara bernama NKRI.

Dalam sejarahnya, Indonesia beberapa kali bereksperimen dengan berbagai bentuk negara, diantaranya adalah bentuk negara federasi. Apa hasilnya? Kekacauan dimana-mana. Dari sana kita paham bahwa NKRI adalah bentuk terbaik untuk negeri ini.

Dalam riwayatnya, beberapa undang-undang dasar selain UUD 1945 pernah kita coba. Ada yang pernah kita terapkan, ada yang pernah kita perdebatkan, sampai ada yang kita usulkan untuk menjadi konstitusi negeri ini. Lagi-lagi sejarah mencatat bahwa UUD 1945 adalah konstitusi yang menjadi landasan kuat dari keberlangsungan bangsa ini.

Dari Mbah Moen Kita Bisa Belajar Kebhinekaan

Dari Mbah Moen, kita bisa belajar : bagaimana mencintai negeri ini tanpa harus membenci Islam.
Dari Mbah Moen, kita bisa belajar : bagaimana menjadi muslim yang baik tanpa harus mengubah kepribadian kita dengan kepribadian asing, apapun itu.
Dari Mbah Moen, kita bisa belajar : bagaimana melaksanakan ajaran islam tanpa harus membenci budaya lain yang ditakdirkan Allah untuk berbeda.

Dari Mbah Moen kita bisa belajar bagaimana politik dan hal-hal keduniawian lainnya hanyalah sarana untuk mempersiapkan diri, kelak menghadap Allah SWT. Menjadi politisi tidak harus menghalalkan segala cara. Menjadi kaya tidak harus dengan harta. Ingin dihormati orang lain dan menjadi pribadi mulia, tidak harus dengan kekuasaan dan senjata.

Dari mbah Moen kita belajar banyak bagaimana bukti kebenaran Al Qur’an, bahwa orang yang berilmu akan diangkat derajatnya. Adapun orang yang paling mulia di antara kita adalah orang yang bertaqwa, siapapun dan apapun posisi kita.

Selamat Jalan Mbah Moen, saya yakin bahwa ilmu yang Mbah Mun miliki adalah ilmu yang manfaat dan barokah. Ilmu yang menginspirasi banyak orang. Tidak hanya kepada santri di Pondok Pesantren Al Anwar tapi juga untuk santri lain yang bahkan belum pernah berjumpa denganmu. Wallaohu a’lam.

Muhammad Dularif l Dewan Pengasuh Yayasan AL IMAN PKN STAN

———

Bantu kami mengembangkan Yayasan AL IMAN yang sedang membangun Pondok Pesantren Baitul Imany (santri putra) & Raudhatul Imany (santri putri) di belakang Kampus PKN STAN dan Beasiswa untuk Mahasiswa Kurang Mampu dengan mengirimkan DONASI

Rekening Mandiri 164-00-0303925-4 a.n. AL IMAN PKN STAN
Contact Person Whatsapp 0857 8463 8245

Facebook : Buletin AL IMAN
Instagram : AL IMAN ORG
Youtube : AL IMAN

LEAVE A REPLY