SHARE

Tanya

Assalamualaikum ustadz. Orang tua saya masih hidup dan memiliki kekuatan fisik untuk berhaji. Apakah saya wajib menghajikan orang tua atau diri sendiri terlebih dahulu? (Tri, Pangkalan Bun)

Jawab

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Sahabat Tri yang budiman. Saya mengsumsikan bahwa anda memang mampu melaksanakan haji sendiri dengan kemampuan finansial yang anda miliki. Sedangkan orang tua anda karena faktor finansial, mereka terhalang atau tidak mampu haji.

Jawaban singkat saya adalah kewajiban haji tetap jatuh pada diri anda. Adapun orang tua anda belum wajib haji karena tidak punya kemampuan secara finansial.

Permasalahannya, boleh apa tidak jika si anak kemudian memilih menghajikan orang tua? Apakah si anak berdosa karena dia wajib haji tetapi tidak berhaji malah menghajikan orang tuanya? Apakah sah haji orang tuanya?

Untuk menjawab ini tentu kita perlu garis bawahi hal-hal sebagai berikut:

Pertama, kewajiban haji tetap melekat pada anda dan kewajiban ini terbawa terus sampai anda meninggal dunia.

Kedua, anda belum dikatakan berdosa karena anda belum sampai meninggalkan kewajiban berhaji. Anda akan dianggap berdosa jika belum sempat menjalankannya sampai meninggal dunia.

Ketiga, menunda melaksanakan haji sama seperti menunda melakukan shalat. Sepanjang masih dilaksanakan sesuai waktunya maka hajinya tetap sah dan tidak berdosa.

Dihukumi makruh apabila sampai pelaksanaan haji anda kesulitan saat melaksanakanya, misal faktor umur yang sudah tua sehingga fisik lemah.

Dihukumi Haram apabila anda sengaja dalam menunda-nunda tanpa niat untuk melaksanakan haji. Atau malah niat untuk tidak haji karena malas. Dalam hal ini dianggap murtad kalau anda tidak haji karena ingkar terhadap kewajiban haji.

Keempat, orang tua anda menjadi wajib haji setelah memperoleh hibah dana haji dari anakmya. Orang tua anda dihukumi mampu berhaji.

Kelima, apabila dana haji yang anda berikan ke orang tua dalam bentuk cicilan ONH (tabungan haji) maka tidak ada masalah baik sisi anak maupun orang tua. Artinya anda belum pernah punya kemampuan berhaji (belum ada ONH penuh) dan orang tua anda dihukumi wajib haji saat ONH sudah terlunasi.

Keenam, dalam hal keutamaan tentu lebih utama bila si anak memilih haji lebih dahulu sebab menunda kewajiban jelas menyalahi keutamaan. Namun bukan merupakan sebuah kewajiban atau syarat bagi anda harus mendahulukan haji diri sendiri.

Ustadz Ichsan Nafarin, Pengasuh Kajian Fiqh Al Iman dan Pengajar di Pondok Pesantren Baitul Imany & Raudhatul Imany Bintaro

LEAVE A REPLY