SHARE

Hikmah Idul Adha

Yaumu Idil Adha adalah hari raya terbesar umat Islam, dengan perintah yang jelas untuk merayakannnya, dengan sunnah yang tegas untuk melaksanakan shalat sunnah berjamaah dan menyembelih kurban.

Hari Idul Adha adalah bagian dari rangkaian hari-hari, di mana umat Islam menjalankan ritual ibadah haji, rukun Islam ke-lima, dan ibadah terbesar dari umat ini.

Segenap ritual haji senantiasa dikaitkan dengan peristiwa bersejarah yang mengiringi perjalanan hidup salah seorang makhluk terkasih, hamba pilihan, dan Nabi yang teragung setelah Rasulullah SAW.

Beliau adalah yang bergelar Kholilullah, kekasih Allah, hamba yang telah sempurna ma’rifatnya, yang tak tergoyahkan aqidah dan tauhidnya, dan seorang yang telah membuktikan bahwa cinta dan ketaatannya kepada Allah SWT melebihi kecintaannya kepada apa pun.

Kisah Nabi Ibrahim AS

Dan ritual berkurban yang mengiringi shalat Isul Adha juga senantiasa dikaitkan dengan beliau. Dia adalah Abul Anbiyaa, Al-Kholil, Nabiyullah Ibrahim As.

Pelajaran yang dapat kita serap dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim As. sungguh sangat padat, banyak, dan semuanya bernilai agung. Gambaran yang terekam dalam benak kita dari sejarah hidup beliau adalah ketaatan dan kepatuhan total seorang hamba kepada Tuhannya.

Semua kisah dan cerita mengenai beliau itu disampaikan kepada kita tidak lain adalah agar kita dapat memperoleh informasi mengenai jalan terdekat untuk bagaimana kita dapat mendekatkan diri kepada-Nya, bagaimana kita bisa menjadi kekasih Allah.

Masa Kecil Nabi Ibrahim AS

Untuk kita ketahui bersama, bahwa Nabi Ibrahim As. diasuh oleh seorang yang pekerjaannya adalah pembuat berhala. Dari kecil aqidah penyembah berhala yang salah itu dilihatnya, direkamnya, dan terus diamatinya.

Meski belum genap berusia 14 tahun, usia yang saat ini dianggap sebagai usia yang masih anak-anak – sebuah konsep yang jelas salah, karena dalam Islam, seseorang telah bertanggung jawab kepada amal dan perbuatannya sendiri sejak ia sudah baligh.

Kemampuan berpikir dan berargumen dari Nabi Ibrahim As. membuatnya sanggup mengkritisi hal tidak masuk di akal yang dihadapinya. Ia pun menentang bapaknya yang sebenarnya adalah pamannya yang bernama Azaar, sang pembuat patung.

“Apakah kalian menyembah sesuatu yang tidak bisa memberikan manfaat atau madharat sedikitpun bagi kalian. Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah itu.”

Atas upayanya yang tidak kenal henti – di usianya yang masih sangat muda itu – Allah SWT berkenan memberinya hidayah. Ia pun menemukan Tauhid dan berma’rifat dalam usia yang masih belia dengan bimbingan langsung dari Allah SWT. Tidak heran, aqidahnya begitu kuat, kukuh, dan tak tergoyahkan.

Nabi Termuda yang Diangkat Umur 14 Tahun

Bila kita mengira bahwa ujian buat Nabi Ibrahim adalah hanya perintah untuk menyembelih Isma’il, putra kesayangannya, maka sesungguhnya bukan hanya itu.

Nabi Ibrahim As. adalah orang termuda yang diangkat sebagai Nabi. Saat beliau diangkat menjadi Nabi, usianya baru 14 tahun.

Bayangkan, masih semuda itu sudah mendapat tanggung jawab yang sangat besar. Ini sekali lagi membuktikan bahwa usia 14 bukan lagi bisa disebut sebagai usia anak-anak. Itu usia orang seharusnya sudah bertanggung jawab penuh atas perbuatannya sendiri.

Di usia muda itu, ia harus berhadapan dengan bapaknya sendiri, Azaar, yang sebenarnya adalah pamannnya yang mengasuhnya sejak kecil. 

Ujian Pertama Nabi Ibrahim AS

Ini adalah ujian pertamanya setelah menjadi Nabi, yakni berhadapan dengan keluarganya. Bahkan kemudian atas perbuatan nekatnya menghancurkan patung-patung berhala yang disembah kaumnya, yang juga buatan bapaknya, beliau kemudian harus berhadapan dengan Raja Namrudz, penguasa dengan segenap bala tentara yang lengkap dan kuat di belakangnya.

Adakah di antara kita yang berani – bahkan membayangkan saja – pada usia yang begitu muda sudah berhadapan dan berselisih dengan penguasa kejam yang menguasai pasukan lengkap dan kuat.

Saat menghadapi persidangan, ia benar-benar sendirian, karena seluruh penduduk turut menuntut agar ia dibakar hidup-hidup. Bahkan tak satu pun keluarganya membelanya.

Namun, aqidah beliau sangat kuat. Bahkan di usia yang begitu muda itu, dengan tenang beliau menjalani persidangan dan mengalahkan segenap argumentasi para penuntutnya. Kisah persidangan Nabi Ibrahim diuraikan dengan ringkas dan padat dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa ayat 62-67.

Mereka yang menuntut beliau berkata, “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” Dengan tenang, Nabi Ibrahim menjawab, “Tanyakan saja kepada patung yang paling besar itu, jika mereka dapat berbicara.” (Beliau sengaja meninggalkan patung yang paling besar tidak dihancurkan sebagai bagian dari persiapan pembelaan diri dan argumennya). Kaumnya berkata lagi, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (dengan kata lain, “Apakah kamu sudah gila menyuruh orang bertanya kepada patung yang sudah pasti tidak bisa menjawab?”) Poin itu langsung diambil oleh Nabi muda tersebut: “Kalian sudah tahu sendiri bahwa patung itu demikian sifatnya (tidak dapat berbicara). Mengapa kalian menyembah selain Allah sesembahan yang tidak bisa memberikan manfaat maupun madharat?”

Mu’jizat Nabi Ibrahim AS

Kaum itu tercengang dan sebagian dari mereka mulai menyadari keanehan perbuatan mereka.

Namun, penguasa lalim Namrudz kemudian memerintahkan eksekusi pembakaran terhadap pemuda hanif tersebut.

Allah SWT kemudian memberikan mu’jizat kepada Ibrahim dengan selamat dari api yang berkobar-kobar itu, yang bahkan terasa sejuk bagi Nabi Ibrahim.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Q.S. Al-Anbiyaa’ ayat 69)

Hikmah Tauhid

Terdapat pelajaran mengenai ajaran Tauhid yang sangat penting dari peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim ini. Yang pertama adalah keteguhan Nabi Ibrahim As. dalam mempertahankan aqidah Tauhidnya.

Meski dihadapkan pada persidangan tanpa pembela dan menghadapi tuntutan dibakar hidup-hidup, beliau tetap kukuh dengan aqidahnya. Yang kedua adalah pengajaran dari Allah SWT kepada kita bahwa segala itu berjalan sesuai dengan kehendak dan kuasa dari-Nya. Api – dalam hal ini – pada hakekatnya tidak mempunyai kemampuan untuk membakar.

Kita tidak boleh meyakini bahwa api itu membakar karena tabiatnya. Sesuatu yang tersentuh api tidak akan terbakar tanpa kehendak dan Qudrot dari Allah SWT. Demikian pula dengan pisau yang tajam, tidak akan dapat memotong tanpa kehendak dan ketentuan dari Allah SWT. Kita juga tidak boleh meyakini pisau itu dapat memotong karena tabiatnya.

Bila sesuatu terkena pisau, namun tidak dikehendaki terpotong, maka ia pun tak dapat memotong. Air pun demikian, bukan air yang memberikan rasa segar ketika diminum.

Namun, Allah yang memberikan rasa segar itu. Bila tidak diberikan rasa segar oleh Allah, maka air pun tak dapat memberikan rasa segar. Demikian ini antara lain ditunjukkan dalam kisah pasukan Thalut yang diuji dengan sebuah sungai sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah 249:

فلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka…”

Hijrah Nabi Ibrahim AS

Mereka yang meminum banyak air sungai itu justru merasa lemas dan tidak segar, sehingga ketakutan ketika bertemu pasukan Jalut. Sedangkan mereka yang tidak meminumnya atau hanya meminum sedikit, justru menjadi segar, berani, dan maju menghadapi pasukan Jalut.

Selanjutnya Nabi Ibrahim memilih untuk berhijrah. Di antara yang beriman kepada beliau ketika itu hanya sedikit, yaitu istrinya sendiri Siti Sarah dan keponakannya, Luth, yang kelak juga diangkat menjadi Nabi oleh Allah SWT, Nabi Luth.

Ujian berat Nabi Ibrahim As. tidak berhenti di situ.  Saat beliau sudah berumah tangga, puluhan tahun beliau tak juga dikaruniai putra. Permata hati idaman tak kunjung tiba. Sampai usia 80 tahun lebih beliau tak juga mempunyai anak. Saat seperti itu, rumah tangga diuji. Beliau pun berdoa: (Ash-Shaffaat ayat 100)

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Menikahi Pembantunya, Siti Hajar

Atas petunjuk dari Allah SWT, beliau menikahi Hajar, yang adalah pembantu dari istri beliau yang pertama, Sarah. Kemudian, dari istri kedua ini lahir seorang putra yang telah lama didambakan, diberi nama Isma’il. Bisa dibayangkan betapa besar rasa cemburu Siti Sarah.

Hajar yang tadinya adalah pembantunya, kini menjadi madunya. Dan madunya itu dikaruniai anak pula. Untuk memadamkan rasa cemburu yang ditakutkan menjadi hasud itu, Hajar pun diungsikan. Bersama putranya yang masih merah, mereka berdua ditempatkan di padang pasir yang tandus, panas, nyaris tak ada tanaman, bahkan air.

Namun, Nabi Ibrahim tiada ragu. Dengan tanpa ragu pula beliau berdialog dengan kekasihnya yang sejati, Dzat Yang Maha Pengasih, dan mengajukan permohonan yang kemudian mempengaruhi sejarah hidup seluruh umat manusia.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِير

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

Kepasrahan sempurna berupa tawakkal yang sesungguhnya kepada Allah SWT, tidak akan timbul begitu saja. Hal itu tentu lahir dari Tauhid yang kukuh dan aqidah yang kuat, yang menghasilkan sesuatu yang dahsyat. Bayi Isma’il menghentak-hentakkan kakinya ke Bumi, dan memancarlah air paling murni di muka Bumi ini, air zam zam. Kemurniannya bahkan tak dapat ditandingi oleh hasil destilasi suling. Daya tahannya dan daya sembuhnya tak terkalahkan oleh air apa pun di muka Bumi ini. Cukup dengan hati yang bersih dan doa yang tulus, air itu dapat menjadi obat bagi berbagai macam penyakit.

Sa’i ~ Lari Kecil Shafa ke Marwah

Upaya Hajar berlari-lari dari Shafa ke Marwah demi mencari air untuk anaknya juga diabadikan oleh Allah SWT dalam bentuk perintah, yaitu bagian dari ritual Haji yang wajib dilakukan dan disebut Sa’i.

Doa Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah SWT, dan negeri Makkah itu senantiasa makmur dan aman, menjadi tempat kunjungan umat muslim setiap waktunya.

Anak yang ditunggu-tunggu itu, Isma’il, adalah anak yang hadir setelah puluhan tahun Nabi Ibrahim tak dikaruniai putra. Ketika Isma’il lahir, usia Nabi Ibrahim saat itu sudah mencapai 86 tahun.

Bisa dibayangkan betapa sayangnya beliau kepada putranya itu. Ia adalah putra tersayang, permata hati, keindahan yang tak bisa diukur dan tak bisa ditukar dengan harta seberapa pun banyaknya.

Dengan demikian, puncak ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim adalah ketika beliau selama tiga hari berturut-turut didatangi oleh mimpi yang berisi perintah penyembelihan Isma’il, putra kesayangannya dan saat itu adalah putra satu-satunya. Ini sungguh terasa memilukan.

Ujian untuk Nabi Ibrahim AS

Untuk datangnya Isma’il saja, berbagai cobaan telah dihadapi. Puluhan tahun rumah tangga tanpa putra, datangnya perintah khitan, kemelut rumah tangga, pengasingan Hajar dan Isma’il. Kini, tiba-tiba diperintahkan untuk menyembelihnya. Sebuah tantangan yang sangat besar. Lebih cinta mana Ibrahim, kepada Allah, Tuhannya, atau kepada Isma’il, anak dan permata hatinya.

Namun kembali Al-Kholil berhasil menunjukkan bahwa ia adalah kekasih sejati Allah SWT, hamba Tuhan dengan aqidah yang tak tertandingi, dan dengan sangat luar biasa menghadapi ujian itu dengan ketegaran tiada tara. (Ash-Shaffaat ayat 102-107)

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ٠فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ٠وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ٠قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ٠إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ ٠وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu 1285″, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar.

Kurban Sudah Ada Sejak Nabi Adam AS

Isma’il kemudian digantikan dengan domba gemuk besar dari langit yang tidak lain adalah kurban dari Habil putra Nabi Adam As. Jadi, pelajaran kurban sendiri sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi Adam As., yakni ketika Qabil dan Habil diperintahkan berkurban untuk mendapatkan Iklimah.

Namun, kurban Habil itu tidak bisa dibandingkan dengan kurban Nabi Ibrahim. Karena Qabil dan Habil berkurban untuk apa yang mereka cintai di dunia ini, sedangkan Nabi Ibrahim justru mengurbankan yang dicintainya di dunia ini demi kekasih sejatinya, Dzat Maha Pengasih, Allah SWT.

Setelah ujian yang maha berat itu, Nabi Ibrahim As. kemudian dikaruniai putra lagi dari istrinya yang pertama, Siti Sarah, yang saat itu sudah sangat lanjut usia. Kedatangan putra itu dikabarkan oleh Malaikat yang diutus oleh Allah SWT untuk menghancurkan kaum Nabi Luth.

Para Malaikat itu menyerupai manusia dan singgah di rumah Nabi Ibrahim untuk mengabarkan akan datangnya seorang anak lagi dari Siti Sarah, meski beliau telah puluhan tahun tidak berputra dan telah tua renta.

Nabi Ibrahim memberi pelajaran kepada kita bukan hanya dengan kata-kata. Beliau sendiri adalah pelaku utama dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan dari Allah SWT, dengan segenap dirinya, dengan sepenuh hati, dan keyakinan kepada Allah SWT, serta kecintaan tiada banding.

Ustadz Dr. Dawud Arif Khan l Pengasuh Yayasan Al Iman PKN STAN

———

Bantu kami mengembangkan Yayasan AL IMAN yang sedang membangun Pondok Pesantren Baitul Imany (santri putra) & Raudhatul Imany (santri putri) di belakang Kampus PKN STAN Jurangmangu Timur, Tangerang Selatan dan Beasiswa untuk Mahasiswa Kurang Mampu dengan mengirimkan DONASI

Rekening Mandiri 164-00-0303925-4 a.n. AL IMAN PKN STAN
Contact Person Whatsapp 0857 8463 8245

Facebook : Buletin AL IMAN
Instagram : AL IMAN ORG
Youtube : AL IMAN

LEAVE A REPLY