SHARE

Dalam sebuah kitab fenomenal karya ulama besar Indonesia yang berjudul adabul alim wa al mutaalim yang dikarang oleh KH. Hasyim Asyari, bahwa baik guru maupun murid mempelajari adab (tata krama) dalam mengajar (termasuk dakwah) dan belajar adalah sangat penting. Di tengah arus informasi dan materi keilmuan yang bisa kita akses melalui teknologi terkadang kita sombong dan lupa bahwa ternyata adab itu sama pentingnya dengan ilmu, bahkan di atas ilmu. Ilmu tidak sebatas pada ilmu agama.

Ilmu dunia pun jika itu membawakan kemaslahatan bagi umat maka juga penting. Ilmu dunia saja perlu adab apalagi agama yang mana imam ghazali memasukkan ke ilmu fardhu ain. Tidak hanya yang belajar, tetapi pengajar pun juga harus memiliki adab dlm menyampaikan ilmu. Lantas sejak kapan seyogyanya kita belajar adab?

Dalam sebuah riwayat dikatakan

حق الولد على والده أن يحسن اسمه, ويحسن مرضعه, ويحسن أدبه

“Hak anak atas orang tuanya adalah diberi nama yang bagus, diberi susu yang bagus dan diajari tata krama (adab) yang bagus. Begitu pentingnya adab shingga ulama mensejajarkan adab dg ilmu, bahkan adab di atas ilmu.”

Ibnu Sirrin berkata, “Para sahabat dan tabiin mempelajari petunjuk (al-huda) sama sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

وقال رويم رضي الله عنه : يا بني إجــعل علــمك مــلحا وأدبــك دقيـقا

Imam Ruwaim berkata, “Wahai anakku, Jadikanlah ilmumu sebagai garam dan adabmu sebagai tepungnya”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa adab adalah sesuatu yang pokok (tepung, roti) dan ilmu justru sebagai tambahan (perasa, asin)

وقال ابن المبارك رضي هللا عنه نـحن
الى قلــيل مــن الأدب أحوج مــنا ال كــثير مــن العلم

Ibnu Al Mubarak berkata, “Kita terhadap suatu pelajaran adab yang sedikit itu lebih dibutuhkan dari pada banyak hal dari ilmu. Adapun dalam Al Quran Allah SWT telah menegaskan dalam surat al hajj Allah Ta’ala berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS. Al Hajj: 30). Allah Ta’ala berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al Hajj: 32).

Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling mulia, yang paling memiliki akhlak, budi pekerti, adab tata krama yang bagus. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR. Al Baihaqi)

قال سفيان بن ُعيينة إن رسول هللا صلى الله عليه وسلم هو الميزان الأكبر وعليه تعرض الأشياء على خلقه وسيرته وهديه ، فما وافقها فهو الحق وما خالفها فهو الباطل

Sufyan bin Uyainah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah standar yang agung [mizanu al-akbar] yang tercermin dari segala sesuatu pada budi pekerti beliau, kisah perjalanan beliau, dan petunjuk beliau.

Oleh karena itu, apapun hal yang cocok dengannya maka hal itu adalah haq, sebaliknya bila menyelisihinya maka hal itu adalah bathil.

وقال َّي من حبيب بن الشهيد لابنه : ” يا بني اصحب الفقهاء والعلماء وتعلم منهم أدبهم ؛ فإن ذلك أحب إل كثير من الحديث

Habib bin Syahid berkata kepada anaknya,”Wahai ankku, bertemanlah kamu dengan ahli fiqih, dan pelajarilah adab (tata krama) mereka. Karena yang demikian itu lebih aku sukai dibanding belajar banyak ilmu.

Mungkin diantara kita sudah ada yang bisa memberikan ilmu kepada saudara, kerabat, teman atau tetangga. Marilah kita sampaikan dg akhlak yg mulia, kita balut penyampaian dg tata krama yang ihsan, tegas bukan berarti keras. Tegas itu bisa dibalut dengan kebijaksananaan dan keindahan dalam menyampaikan. Mari kita hindari ucapan yang tidak tepat, yang menyakiti hati orang lain, ujaran kebencian dan lain sebagainya.

Memang benar adanya bahwa mempelajari adab tdk bisa sehari dua hari

وقال الحسن”: إن كان الرجل ليخرج في أدب نفسه السنتين ثم السنتين

Imam Hasan Al Bashri berkata,“Sebaiknya orang laki-laki itu pergi keluar untuk mendidik tata kramanya dalam jangka waktu beberapa tahun”. Kitab Adab al ‘Aalim wa al Muta’allim, karya Syekh Hasyim Asyari, Muassis NU

وقال بعضـهم التـوحـيد يوجـب الإيـمان, فـمن لا إيـمان لـه لا تـوحـيد لـه, والإ يـمان يـوجـب الشـريعة , فمـن لا شريعـة لـه لا إيـمان لـه ولا تـوحـيد لـه , والشريعـة تـوجـب الأدب , فـمن لا أدب لـه لا شريعـة لـه .ولا إيـمان لـه ولا تـوحيـد لـه

Sebagian ulama’ bekata: Tauhid itu menetapkan (mewajibkan) iman, maka barang siapa yang tidak ada iman dalam dirinya secara otomatis tidak ada ketauhidan padanya. Dan iman itu menetapkan syari’at, barang siapa tidak ada syari’at dalam dirinya maka otomatis tidak ada iman dan tidak ada tauhid padanya. Dan syari’at menetapkan adab (tata krama), barang siapa tidak memiliki adab secara otomatis tidak ada syari’at, tidak ada iman, dan tidak ada tauhid dalam dirinya.

فهذه كلها نصوص صريحة وأقوال مؤيدة بنور الإلهام مفصحة بعلو مكانة الأدب مصرحة بأن جميع الأعمال الدينية قلبية كانت أو بدنية قولية أو فعلية ، لا يعتبر شيء منها إلا إن كان محفوفا بالمحاسن . الأدبية والمحامد الصفاتية والمكارم الخلقية وبأن تحلية العمل بالآداب عاجلا علامة قبوله آجلا، وبأن الأدب كما يحتاج إليه المتعلم في أحوال تعلمه، يتوقف عليه المعلم في مقامات تعليمه

Maka keseluruhan sabda Nabi dan Qaul para ulama’ merupakan nash-nash (dasar) yang shorih (jelas) dimana beberapa Qaul dikuatkan dengan cahaya ilham yang menerangkan tentang tingginya kedudukan adab (tata krama) yakni bahwa keseluruhan amalan agama baik berupa hati, badan, ucapan maupun perbuatan tidaklah satu pun dianggap sebagai amalan kecuali jika diselimuti oleh adab yang bagus, perbuatan terpuji dan akhlak yang mulia. Dan bahwa memperindah amal dengan adab (tata krama) di waktu saat ini merupakan tanda diterimanya amal di waktu kelak kemudian hari. Selain itu, sesungguhnya adab (tata krama) yang dibutuhkan oleh murid (sang pembelajar) ketika belajar itu tergantung dari guru dalam mendudukkan adab saat dia mengajar.

وقيل للشافعي: ” كيف شهوتك للأدب؟ ” فقال: ” أسمع بالحرف منه، فتود َأعضائي أن لها أسماًعا ” فتنعم به ” .. قيل له: ” وكيف طلبك له؟ ” قال: ” طلب المرأة الم ِضَّلة ولدها وليس لها غيره

Dikatakan kepada Imam Al Syafii: “Bagaimana syahwatmu (keinginanmu) pada adab (tata krama)?” Beliau menjawab,”Ketika aku mendengar satu huruf tentangnya (adab/tata krama), maka anggota tubuhku menginginkan untuk diberi pendengaran sehingga mereka bisa menikmatinya (mendengar tentang adab)”. Dikatakan kepadanya,”Bagaimana kamu mencari adab (tata krama)?”, beliau berkata,”Aku mencari adab ibarat seorang wanita yang mencari anak satu-satunya yang hilang”.

Disampaikan oleh Ustadz Randyadifta Fahmi dalam Khutbah Jumat 12 Juli 2019 di Masjid Al Islami Gedung Keuangan Negara I Surabaya

LEAVE A REPLY