SHARE

Bertempat di Omah Ngaji Al Fath Iman Komplek Pajak Tangerang Selatan, hari ini Sabtu (13/7) Alumni IMAN PKN STAN (AL IMAN) mengadakan halal bihalal untuk menjalin silaturahmi sesama alumni. Kegiatan ini adalah rutinan tahunan yang selalu dilaksanakan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah alumni di lingkungan PKN STAN yang sudah tersebar di penjuru nusantara.

Ustadz Subhan sebagai pemimpin gerbong AL IMAN masa khidmat 2017-2020 memberikan arahan bahwa sebagai seorang muslim aswaja annahdliyah kita harus siap dengan tuntutan perubahan zaman. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan yang mau tidak mau kita harus bersiap-siap menjemput kebangkitan umat.

“Kita di Jakarta jangan disamakan dengan kondisi di Jatim-Jateng. Ayo kita berani bangkit bareng. Ndak bisa kita hanya diam saja. Ayo sokong bareng-bareng”, kata doktor lulusan International Islamic University Malaysia ini.

“Satu saja kita nglilir (bangun red.), kita bisa membangunkan yang lain. Menurut saya itu sudah luar biasa. Bagaimana kalau nglilirnya bareng-bareng? Pasti kekuatannya yang bangkit sangat besar”, tambah sosok berkacamata itu.

Sedangkan Ustadz Dr. H. M. Dawud Arif Khan yang hadir sebagai sesepuh sekaligus pendiri IMAN tahun 1991 lebih menekankan pada gerakan sosial yang dibangun salafus sholeh. Bagaimana Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya langsung mempraktikkan akhlak sosial di kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Kita pengennya punya pemimpin hebat seperti sahabat nabi tapi warganya tidak mencontoh perilaku sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin. Bagaimana bisa? Perbaikilah diri kita dulu dong”, ungkapnya berapi-api.

Menurut sesepuh instruktur pelatihan DSN MUI ini, Rasulallah SAW adalah contoh paling bagus untuk mengambil ilmu. Sebab semua akhlaknya adalah ilmu.

“Orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya. Bisa ga kita seperti itu? Kalau level nabi malah lebih tingggi, beliau membalas orang yg menyakitinya dengan kebaikan”, ungkap Ustadz Dawud mengutip QS Ali Imron 134.

“Coba bayangkan, ada orang yang sering mencaci maki nabi tapi ketika ia sakit orang pertama yang menjenguknya adalah nabi. Orang itu seringkali meludahi nabi, eh yang menyuapi makanan dia tiap hari adalah Nabi Muhammad”, tambahnya.

“Nah kalau bangsa kita bisa mengubah level masyarakatnya seperti ini, pasti jadi bangsa yang besar kita”.

Wakil Rektor II Institut Ilmu Qur’an (IIQ Jakarta) periode 2015 – 2018 ini kemudian mengungkapkan bahwa dosa yang diampuni di bulan Ramadhan adalah habluminallah. Sedangkan habluminnas tidak selesai kalau orang yang bersalah tidak saling memaafkan. Untuk itulah pentingnya halal bihalal, bermaaf-maafan.

Acara lalu ditutup Ustadz Dawud dengan doa dilanjutkan dengan ramah tamah dan membaca sholawat bersama. (BR)

LEAVE A REPLY