SHARE
Dokumentasi Beritagar

Kabar mengejutkan datang dari Makkah Al Mukaromah, KH. Maimoen Zubair meninggal dunia setelah sempat dirawat di rumah sakit An Nor. Meskipun Kiai kharismatik yang sering jadi rujukan ulama nusantara itu sudah wafat, nasihat-nasihat beliau masih hidup di hati para santri-santrinya.

Berikut ini adalah 7 Nasihat Mbah Maimoen yang bisa dipetik hikmahnya.

1. Jadilah Nasionalis yang Berwawasan Luas

“Jadilah orang yang nasionalis, berpikiran luas, dan tetap NU,” kata kiai sepuh itu kepada perwakilan AL IMAN yang sowan ke Pondok Pesantren Al Anwar 2 tahun lalu.

Beliau kemudian menjelaskan tentang pentingnya nasionalisme untuk perdamaian negara. Banyak ulama Timur Tengah, heran dengan Indonesia karena menjadi satu-satunya negeri mayoritas muslim yang damai dan tidak rusuh.

Di negara-negara Timur Tengah, setiap ada konflik politik selalu berakhir dengan kerusuhan. Pertikaian itu terjadi bukan karena perbedaan agama tapi perbedaan pandangan sesama umat muslim sendiri.

Beliau lalu berpesan agar generasi muda dapat menjaga negeri ini dengan perdamaian, jangan sampai bernasib sama dengan konflik di negara-negara teluk. Oleh karena itu, jiwa nasionalis adalah salah satu upaya menjaga islam damai di bumi Nusantara.

2. Jangan Jadi Orang Fanatik untuk Urusan Dunia 

Maksudnya adalah santri-santrinya jangan sampai fanatik dalam urusan politik dunia. Misalnya seperti pilihan presiden, pilihan gubernur, pilihan bupati, pilihan anggota dewan, dan pilihan politik lainnya kalau bisa jangan terlalu fanatik. Jangan sampai menimbulkan konflik antar saudara sendiri. Berpikirlah yang luas dan terbuka.

“Satu-satunya manusia yang boleh kita fanatik hanyalah Kanjeng Nabi Muhammad Bahkan kiai dan ulama pun, bisa saja keliru. Makanya, jangan terlalu fanatik terhadap sesuatu,” kata Kiai kelahiran Rembang 90 tahun lalu.

3. Pilihlah Istri yang Tidak Mengerti Urusan Dunia

Pesan Mbah Moen bila seseorang ingin mempunyai anak yang shaleh dan pandai dalam masalah agama, kuncinya ada di calon ibu dari anak-anaknya. Mbah Moen memberi wejangan, agar seorang laki-laki memilih calon istri yang tidak terlalu mengerti/mengurusi duniawi.

Sebagaimana dikutip dari www.fiqhmenjawab.net, istri yang tidak mengerti urusan dunia maksudnya adalah perempuan yang lebih senang tinggal di rumah untuk beribadah. Seperti berpuasa, istiqamah membaca Alquran, dan aktivitas lainnya.

Sebaliknya jika seseorang mendapatkan jodoh perempuan yang senang dengan aktivitas dunia, maka suaminya yang harus rajin tirakat dan beribadah.

4. Jangan Jadi Guru Demi Uang

Mbah Moen bercerita tentang cara kaum Yahudi memberikan ilmu. Mereka mau mengajarkan sesuatu jika diberi imbalan/uang.

Sebagaimana dikutip dari www.santrijagad.org, Santri yang ingin jadi guru harus dilandasi keikhlasan. Jangan sedikit-sedikit mengajar karena ingin mencari uang. Jika demikian, tak ada bedanya guru muslim dengan orang Yahudi. Padahal sifat orang Yahudi seperti itu dikecam dalam Alquran.

5. Santri Harus Punya Usaha Sendiri

Bagaimana cara santri agar bisa mengajar dengan ikhlas? Salah satunya santri harus punya usaha sendiri. Agar ketika dia mengajarkan ilmu, bisa terhindar dari iming-iming gaji dari hasil mengajarnya. Sebagaimana diterangkan di atas, bahwa sifat seperti demikian adalah sifatnya orang Yahudi.

Bagaimana jika profesi seseorang santri itu adalah guru sekolah/dosen universitas? Tidak apa-apa mengambil gaji yang sudah menjadi haknya. Asalkan seorang santri harus tetap memegang prinsip jika rezeki Allah bisa turun dari pintu mana saja.

Santri yang jadi guru/dosen/pegawai tidak boleh berpikiran rejekinya hanya dari gaji saja. Karena dapat menimbulkan prasangka, jika suatu saat gaji/tunjangan terlambat turun mereka akan mudah mengeluh. Nasihat seperti ini seringkali kita lihat di akun media sosial para nahdliyin.

6. Jangan Suudzan, Hati Bisa Jadi Gelap

Mbah Moen mewanti-wanti agar seorang santri jangan terlalu sering suudzan. Sebab sifat seperti itu bisa mengubah hati jadi gelap.

Jika hati sudah gelap, seseorang akan susah menerima kebenaran yang datang dari orang lain. Oleh karena itu, sifat buruk lain seperti penyakit hati marah berlebihan, iri, dengki, sombong, dan lainnya harus kita hindari. Sebagaimana nasihat ini dikutip dari www.alfikronline.com.

7. Pisahkan Uang Subhat dan Uang Halal

Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan Mbah Moen adalah memisahkan antara uang subhat dan uang halal. Uang yang halal maksudnya uang yang didapat dari hasil kerja keras seperti menjual hasil panen padi. Uang subhat misalnya uang yang diperoleh dari usaha lobi-lobi di partai politik.

Maka uang yang sudah jelas halalnya dan uang yang masih abu-abu warnanya, sebisa mungkin dipisahkan. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah uang yang subhat agar tidak masuk ke dalam perut pribadi dan keluarga. (BR)

———

Bantu kami mengembangkan Yayasan AL IMAN yang sedang membangun Pondok Pesantren Baitul Imany (santri putra) & Raudhatul Imany (santri putri) di belakang Kampus PKN STAN dan Beasiswa untuk Mahasiswa Kurang Mampu dengan mengirimkan DONASI

Rekening Mandiri 164-00-0303925-4 a.n. AL IMAN PKN STAN

Contact Person Whatsapp 0857 8463 8245

Facebook : Buletin AL IMAN

Instagram : AL IMAN ORG

Youtube : AL IMAN

LEAVE A REPLY